Tujuan : untuk menguji stabilitas fisik, kimia, dan biologik terhadap formulasi terbaru liposom tetra eter lipid sebagai pembawa obat.
Latar belakang
Dewasa ini, beberapa obat antikanker ataupun imunosupresan yang tersedia masih banyak menimbulkan efek samping dibandingkan manfaat obat karena dibutuhkan dosis tinggi untuk jangka pemberian yang cukup lama. Salah satu cara menurunkan efek samping tersebut adalah dengan menginkorporasikan obat antikanker ataupun imunosupresan ke dalam pembawa obat (drug carrier) yang telah banyak diteliti yaitu liposom 2-4. Liposom yang mempunyai gambaran mirip dengan sel yang bermembran dua lapis fosfolipid, .merupakan suatu pembawa obat. Liposom umumnya dibuat dari lesitin atau fosfatidilkolin dari kedelai (Soya bean Phosphatidylcholine/SPC) atau dari kuning telur (Eggyolk Phosphatidylcholine/EPC) 5. Selain fosfatidilkolin sebagai lipid utama, liposom dapat juga dibuat kombinasi dengan lipid lain untuk meningkatkan stabilitas liposom, misalnya kolesterol atau tetra eter lipid (TEL) 6-8. Tetra eter lipid merupakan lipid membran bakteri Archaea yang akhir-akhir ini banyak diteliti sebagai lipid utama pada formulasi liposom per oral, karena stabil pada pH 2. Bakteri Archaea yang sudah banyak diekstrak untuk mendapatkan TEL adalah Thermoplasma acidophilum7 dan Sulfolobus acidocaldarius8. Pada penelitian ini digunakan TEL dari Thermoplasma acidophilum. Liposom kombinasi EPC-TEL 2,5 terbukti dapat mengikat obat lebih baik dibandingkan liposom EPC atau liposom jenis lain9-10, namun belum pernah dilakukan uji stabilitas liposom EPC-TEL 2,5 terhadap pengaruh fisik (perbedaan suhu), pengaruh bahan kimia yaitu NaCl, MgCl2 dan CaCl2 pada berbagai pH dan pengaruh metabolisme di hepar pada uji stabilitas biologik. Apabila liposom EPC-TEL 2,5 cukup stabil pada uji stabilitas fisik dan kimia, tidak stabil pada uji stabilitas biologik, maka formulasi terbaru liposom tersebut dapat dimanfaatkan untuk menginkorporasikan obat-obat, terutama obat yang hanya efektif pada dosis tinggi ataupun obat-obat untuk jangka panjang, sehingga efek toksik obat dapat ditekan serendah mungkin.
Alat dan bahan
Alat : ekstruder Avestin®, membran berpori 100 dan 200 nm liposom unilamelar berukuran 100-200 nanometer), bath sonicator unilamelar berukuran <100 nm, mikroskop fluoresens, TLC- gel silika60 F254 (Merck), pendingin, pemanas, thermometer, scanner.
Bahan : liposom EPC-TEL2,5, penanda liposom Quinacrin 0,05 %, NaCl, MgCl2 , CaCl2, mencit, ekstrak hepar, pewarna bercak campuran tembaga asetat 3% dan asam fosfat 8%.
Metode Penelitian
Tahap 1 : Preparasi liposom EPC-TEL2,5 (Ernie HP) 10
• Liposom diekstrusi dengan ekstruder Avestin®, membran berpori 100 dan 200 nm liposom unilamelar berukuran 100-200 nanometer).
• Liposom sonikasi (bath sonicator ) unilamelar berukuran <100 nm.
Tahap II : Uji stabilitas in vitro, meliputi :
A. Fisik: pengukuran besar partikel dan jumlah liposom EPC-TEL2,5 :
- 4 kelompok : 1) sebelum ekstrusi; 2) ekstrusi 200 nm; 3) ekstrusi 100 nm; 4) sonikasi
- Setiap kelompok dibagi ke dalam 3 subkelompok observasi suhu inkubasi (4 sampel/subkel.) + penanda liposom Quinacrin 0.05 %: suhu kamar (≥20° C ), suhu 37° C dan 4° C.
- Observasi hari pertama, akhir minggu pertama, akhir bulan I, akhir bulan ke II dan akhir bulan ke III (3 bulan).
- Pengukuran : a. Metode van Renswoude, dkk 11 : modifikasi elektroforesis untuk mengukur besar liposom.
b. Modifikasi mikroskop fluoresens untuk mengukur besar (diameter dengan skala Olympus) dan jumlah liposom.
B. Kimiawi (Metode Freisleben HJ,dkk 12 dan New RC, dkk 13).
- 4 kelompok : 1) sebelum ekstrusi; 2) ekstrusi 200 nm; 3) ekstrusi 100 nm; 4) sonikasi
- Setiap kelompok dibagi ke dalam 2 subkelompok: 150 dan 350 mMol + penanda liposom Quinacrin 0,05 %.
- Masing-masing subkelompok dibagi 3 subsubkelompok elektrolit NaCl, MgCl2 , CaCl2 dengan pH masing-masing 5; 7; dan 9 , 3 sampel/sub-sub kelompok.
- Uji pada hari I akhir minggu I, akhir bulan I, akhir bulan ke 2, dan akhir bulan ke 3 penyimpanan pada suhu 4°C
- Pengukuran: a. Metode van Renswoude, dkk11 : modifikasi elektroforesis untuk mengukur besar liposom
b. Modifikasi mikroskop fluoresens untuk mengukur besar (diameter, skala Olympus) dan jumlah liposom
C. Uji stabilitas biologik in vivo:
Untuk menilai dekomposisi (degradasi) TEL murni dan atau EPC-TEL2,5 dengan cara:
- 24 ekor mencit C3H jantan dan betina 12-15 minggu, 20-25 g, dibagi 6 kelompok ekstraksi hepar pada menit ke 0; 30; 60; dan jam 2; 4; dan 8.
- Dosis liposom EPC-TEL 2,5 sebesar 10 mmol /ekor, IP
- Ekstrak hepar disimpan pada suhu 4° C sebelum semua ekstrak terkumpul.
- Hasil dekomposisi TEL diukur dengan TLC- gel silika60 F254 (Merck) dengan kontrol TEL murni pada dosis 200; 300; 400 ug.
- Pewarna bercak campuran tembaga asetat 3% dan asam fosfat 8% dengan pemanasan 180° C selama 10 menit.
- Bercak di”scan” dengan program Presto Page Manager dan kadar TEL/degradasi diukur semi kuantitatif pada program Adobe Photo Shop 7.01
Kesimpulan
(a) Liposom EPC-TEL 2,5 cukup stabil hingga 1 bulan penyimpanan secara fisik, terutama pada suhu 4° dan 37° C, sedangkan secara kimia terutama NaCl, CaCl2 dalam larutan 350 mMol tetap stabil hingga akhir bulan II, pada pH 5 dan 7.
(b) Liposom EPC-TEL 2,5 tidak stabil pada uji stabilitas biologik terdegradasi di hati mencit, namun tidak / belum diketahui hasil degradasi TEL
Tidak ada komentar:
Posting Komentar