Minggu, 31 Juli 2011

Analisis Vitamin C


Vitamin C Analysis1
Authors: B. K. Kramer, V. M. Pultz and J. M. McCormick*
Last Update: August 14, 2008

Pengenalan
Vitamin adalah kumpulan molekul senyawa kecil yang mejadi bahan gizi penting dalam organisme multi-sellular, dan manusia juga. Kata vitamin adalah singkatan dari kata “vital amine” dan menjadi istilah seperti sekarang karena vitamin pertama yang ditemukan adalah bagian dari kelas senyawa organik ini. Dan walapun banyak vitamin yang ditemukan sesudah itu adalah bukan “amines”, tetapi namanya tetap dipertahankan. Dalam uji coba ini kita akan mempelajari tentang vitamin C, yang juga dikenal sebagai asam askorbik.

Figure 1. Structure of vitamin C (ascorbic acid).
Asam askorbik (C6H8O6) adalah vitamin yang mudah larut dalam air, yang stukturnya dapat dilihat di Fig.1. Vitamin C mudah sekali di oksidasi dan mayoritas dari fungsi reaksi ini bergantung pada sifatnya. Ia berperan sebagai kunci pada tubuh untuk mengsintesa “collagen” dan” norepinephrine” dengan menjaga enzim tetap responsible terhadap fungsi untuk proses reduksi dalam bentuk aktif dan diperkecil.Vitamin C juga beperan sebagai pendetoxifikasi produk buangan respirasi. Selalunya pada respirasi O2 di reduksi secara tidak sempurna menjadi ion superoxide (O2-) daripada di reduksi sempurna menjadi keadaan oxidasi -2(seperti dalam H2O). Biasanya sebuah enzim yang disebut superoxide dismutase mengubah O2- menjadi H2O2 and O2 , tetapi dengan ditambah Fe2+  pada hydrogen peroxide mungkin akan berubah menjadi radikal hydroxyl yang memiliki kereaktifan yang tinggi (•OH). Radikal hydroxyl dapat memulai reaksi kimia yang tidak diinginkan dan menggangu dalam sel jika melepaskan atom hidrogen(H•) dari senyawa organic untuk membentuk H2O dan menjadikan sesuatu radikal bebas baru yang berpotensi lebih reaktif. Asam askorbik dapat menyumbangkan atom hydrogen kepada radikal bebas tersebut dan akan menghambat kejadian reaksi tersebut.

Tubuh manusia tidak dapat memproduksi asam askorbik secara natural, jadi asam askorbik di perolehi dari diet seseorang. Kekurangan vitamin C dapat mengakibatkan penyakit yang disebut “scury”, yang simptomnya hemorrhaging(terutama di bagian gusi), rasa sakit pada sambungan kaki dan letih-letih. Tingkat terakhir scurvy dapat dilihat dari golongan keletihan yang amat sangat, diarrhea, dan terus kegagalan system pernafasan dan ginjal, yang akhirnya beakibat kematian. Jumlah kecil pemakaian vitamin C(10-15 mg/hari untuk dewasa) sangat di perlukan untuk mencegah kekurangan dan menjauhkan dari penyakit “scurvy”. Walapun begitu masih saja ada perdebatan dalam penetuan jumlah optimal dalam pemakaian vitamin C. Sebagian mengajukan bahwa 200mg/hari adalah pemakaian viamin C yang optimal untuk orang dewasa. Sebagian yang pula berpendapat bahwa 1-2g/hari adalah yang lebih baik, meskipun sebuah riset menunjukkan bahwa didalam aliran darah hanya melarutkan 100mg/hari vitamin C, dan semua vitamin C yang lebih akan di eskresi melalui kencing. Untuk mengambil jalan tengah dari penyataan-pernyataan tersebut dan juga untuk menjamin kesehatan setiap orang, Federal Food and Drug Administration mengambil keputusan untuk menetukan pemakaian yang dianjurkan “recommended daily intake(RDA)” adalah 60mg/hari untuk dewasa(umur 15 keatas), lebih sedikit untuk anak-anak, dan lebih banyak untuk ibu hamil dan menyusui.
Buah, sayur-sayura dan daging (contoh. hati dan ginjal) adalah sumber asam askorbik yang baik secara umum;daging bagiaan otot dan kacang-kacangan tidak banyak mengandung asam askorbik. Jumlah asam askorbik dalam tumbuhan sangat bervariasi, tergamtung pada faktor seperti variasi jenis tumbuhan,kondisi cuaca,dan kedewasaan tumbuhan. Tetapi hal penting yang menentukan kandungan vitamin C dalam makanan adalah bagai mana makanan tersebut disimpan dan diolah. Karena vitamin C mudah dioksidasi, penyimpanan dan proses memasak di ruang terbuka dapat menyebabkan okksidasi terhadap vitamin C oleh oksigen disekeliling atmosfir. Asam askorbik juga mudah larut dalam air, ini berarti kandungan vitamin C dalam makanan akan mudah terbuang pada saat direbus dan saat pembuangan air tersebut.

Kadar vitamin C dalam sebuah sampel akan ditentukan dari titrasi redoks menggunakan  reaksi (ditunjukan dalam skema 1) antara asam askorbik dan 2,6-dikloroindophenol (DCIP). DCIP digunakan sebagai pentitrasi karena;
1.     Akan mengoksidasi asam askorbik dan tidak mengoksidasi zat kimia lainnya yang terkandung di dalamnya
2.    DCIP berperan sebagai self-indicator dalam titrasi. Agar zat kimia dapat menjadi self-indicator harus memiliki satu warna dalam asam askorbik dan warna lain pada saat semua asam askorbik telah bereaksi.
Scheme 1. Redox reaction between ascorbic acid (vitamin C) and 2, 6-dichloroindophenol (DCIP).
          Dalam larutan asam DCIP berwarna merah, jika terdapat asam askorbik DCIP akan direduksi menjadi zat yang tidak berwarna. Larutan tersebut akan tetap tidak berwarna sehingga semua asam askorbik bereaksi dengan DCIP. Setelah reaksi tersebut tetesan larutan DCIP berikutnya akan membuat larutan tersebut berwarna merah terang, karena kelebihan DCIP dapat menunjukan hasil akkhir dari reaksi titrasi ini.
 
                                                           Daftar Pustaka
 Brody, T. Nutritional Biochemistry; Academic Press: San Diego, CA, 1994; pp. x and 450-9.
 
 Pauling, L. Vitamin C, the Common Cold, and the Flu; W. H. Freeman: San Francisco, 1976, pp. x, 4-5, 21-2, 33, 60-1, 145.
 
Kallner, A. Annals of the New York Academy of Sciences, 1986, 498, 418-423.
 
 Combs, Jr., G. F. The Vitamins: Fundamental Aspects in Nutrition and Health; Academic Press, San Diego, CA, 1992; pp. 4-6 and 24-5 and 223-249.
 
Chaney, M. S.; Ross, M. L. and Witschi, J. C. Nutrition, 9th Ed.; Houghton Mifflin: Boston, MA, 1979; pp. 283-295.
 
Thompson, S. Chemtrek: Small-Scale Experiments for General Chemistry; Allyn and Bacon: Boston, MA, 1990; pp. 194-212.
 
Boyer, R. F. Modern Experimental Biochemistry; Addison-Wesley: New York, 1986; pp. 515-521.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar