Minggu, 31 Juli 2011

TIPE RUMAH SAKIT


TIPE-TIPE RUMAH SAKIT
% Tipe A: mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik luas dan sub spesialistik luas. Contoh : RSU Dr Cipto Mangunkusumo, RS PAD Gatot Soebroto, RS Jiwa Jakarta,
% Tipe B II: mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik luas dan subspesialistik terbatas. Contoh : RS Pusat Pertamina, RS MMC, RSU Persahabatan, RS Jantung Harapan Kita, RSPI Prof Dr Sulianti S
% Tipe B I: mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik sekurang-kurangnya 11 jenis spesialistik.
% Tipe C: mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik sekurang-kurangnya spesialistik 4 dasark lengkap. Contoh : RS Medistra, RS UKI Cawang, RSU Haji Jakarta, RS PAU Antariksa,
% Tipe D: mempunyai fasilitas dan kemampuan sekurang-kurangnya pelayanan medik dasar. Contoh : RSU Gandaria, RSB Asih, RS Pusdikkes, RS Abdi Waluyo
% Tipe E: rumah sakit khusus yang menyelenggarakan hanya satu macam pelayanan kedokteran saja. Misalnya: RS jiwa, RS paru, RS kusta, RS jantung, RS Bedah Rawamangun, RSK THT Prof Nizar

8 star Farmasi


Untuk bisa efektif sebagai anggota tim kesehatan, apoteker butuh ketrampilan dan sikap untuk melakukan fungsi-fungsi yang berbeda-beda. Konsep the seven-star pharmacist diperkenalkan oleh WHO dan diambil oleh FIP pada tahun 2000 sebagai kebijaksanaan tentang praktek pendidikan farmasi yang baik ( Good Pharmacy Education Practice ) meliputi sikap apoteker sebagai : pemberi pelayanan (care-giver), pembuat keputusan (decision-maker) , communicator, manager, pembelajaran jangka panjang (life-long learner), guru ( teacher ) dan pemimpin (leader). Pada buku pegangan ini penerbit menambahkan satu fungsi lagi yaitu sebagai researcher ( peneliti ).
a. Care- giver.
Dalam memberikan pelayanan mereka harus memandang pekerjaan mereka sebagai bagian dan terintegrasi dengan sistem pelayanan kesehatan dan profesi lainnya . Pelayanannya harus dengan mutu yang tinggi.
b. Decision- maker
Penggunaan sumber daya yang tepat , bermanfaat , aman dan tepat guna seperti SDM, obat-obatan, bahan kimia, perlengkapan, prosedur dan pelayanan harus merupakan dasar kerja dari apoteker. Pada tingkat lokal dan nasional apoteker memainkan peran dalam penyusunan kebijaksanaan obat-obatan. Pencapaian tujuan ini memerlukan kemampuan untuk mengevaluasi, menyintesa informasi dan data serta memutuskan kegiatan yang paling tepat.
c. Communicator
Apoteker adalah merupakan posisi ideal untuk mendukung hubungan antara dokter dan pasien dan untuk memberikan informasi kesehatan dan obat-obatan pada masyarakat. Dia harus memiliki ilmu pengetahuan dan rasa percaya diri dalam berintegrasi dengan profesi lain dan masyarakat. Komunikasi itu dapat dilakukan secara verbal ( langsung ) non verbal , mendengarkan dan kemampuan menulis.
d. Manager.
Apoteker harus dapat mengelola sumber daya ( SDM, fisik dan keuangan ) , dan informasi secara efektif . Mereka juga harus senang dipimpin oleh orang lainnya , apakah pegawai atau pimpinan tim kesehatan. Lebih-lebih lagi teknologi informasi akan merupakan tantangan ketika apoteker melaksanakan tanggung jawab yang lebih besar untuk bertukar informasi tentang obat dan produk yang berhubungan dengan obat serta kualitasnya.
e. Life-long learner
Adalah tak mungkin memperoleh semua ilmu pengetahuan di sekolah farmasi dan masih dibutuhkan pengalaman seorang apoteker dalam karir yang lama. Konsep-konsep, prinsip-prinsip , komitmen untuk pembelajaran jangka panjang harus dimulai disamping yang diperoleh di sekolah dan selama bekerja. Apoteker harus belajar bagaimana menjaga ilmu pengetahuan dan ketrampilan mereka tetap up to date.
f. Teacher
Apoteker mempunyai tanggung jawab untuk membantu pendidikan dan pelatihan generasi berikutnya dan masyarakat.. Sumbangan sebagai guru tidak hanya membagi ilmu pengetahuan pada yang lainnya, tapi juga memberi peluang pada praktisi lainnya untuk memperoleh pengetahuan dan menyesuaikan ketrampilan yang telah dimilikinya.
g. Leader
Dalam situasi pelayanan multi disiplin atau dalam wilayah dimana pemberi pelayanan kesehatan lainnya ada dalam jumlah yang sedikit, apoteker diberi tanggung jawab untuk menjadi pemimpin dalan semua hal yang menyangkut kesejahteraan pasien dan masyarakat. Kepemimpinan apoteker melibatkan rasa empati dan kemampuan membuat keputusan , berkomunikasi dan memimpin secara efektif. Seseorang apoteker yang memegang peranan sebagai pemimpin harus mempunyai visi dan kemampuan memimpin.
h. Researcher
Apoteker harus dapat menggunakan sesuatu yang berdasarkan bukti ( ilmiah , praktek farmasi , sistem kesehatan ) yang efektif dalam memberikan nasehat pada pengguna obat secara rasional dalam tim pelayanan kesehatan.. Dengan berbagi pengalaman apoteker dapat juga berkontribusi pada bukti dasar dengan tujuan mengoptimalkan dampak dan perawatan pasien.. Sebagai peneliti , apoteker dapat meningkatkan akses dan informasi yang berhubungan dengan obat pada masyarakat dan tenaga profesi kesehatan lainnya.

Resume jurnal “ UJI STABILITAS FISIK, KIMIA DAN BIOLOGIK TERHADAP FORMULASI TERBARU LIPOSOM TETRA ETER LIPID (EPC-TEL 2,5) SEBAGAI PEMBAWA OBAT (Drug Carrier)”


Tujuan : untuk menguji stabilitas fisik, kimia, dan biologik terhadap formulasi terbaru liposom tetra eter lipid sebagai pembawa obat.
Latar belakang
Dewasa ini, beberapa obat antikanker ataupun imunosupresan yang tersedia masih banyak menimbulkan efek samping dibandingkan manfaat obat karena dibutuhkan dosis tinggi untuk jangka pemberian yang cukup lama. Salah satu cara menurunkan efek samping tersebut adalah dengan menginkorporasikan obat antikanker ataupun imunosupresan ke dalam pembawa obat (drug carrier) yang telah banyak diteliti yaitu liposom 2-4. Liposom yang mempunyai gambaran mirip dengan sel yang bermembran dua lapis fosfolipid, .merupakan suatu pembawa obat. Liposom umumnya dibuat dari lesitin atau fosfatidilkolin dari kedelai (Soya bean Phosphatidylcholine/SPC) atau dari kuning telur (Eggyolk Phosphatidylcholine/EPC) 5. Selain fosfatidilkolin sebagai lipid utama, liposom dapat juga dibuat kombinasi dengan lipid lain untuk meningkatkan stabilitas liposom, misalnya kolesterol atau tetra eter lipid (TEL) 6-8. Tetra eter lipid merupakan lipid membran bakteri Archaea yang akhir-akhir ini banyak diteliti sebagai lipid utama pada formulasi liposom per oral, karena stabil pada pH 2. Bakteri Archaea yang sudah banyak diekstrak untuk mendapatkan TEL adalah Thermoplasma acidophilum7 dan Sulfolobus acidocaldarius8. Pada penelitian ini digunakan TEL dari Thermoplasma acidophilum. Liposom kombinasi EPC-TEL 2,5 terbukti dapat mengikat obat lebih baik dibandingkan liposom EPC atau liposom jenis lain9-10, namun belum pernah dilakukan uji stabilitas liposom EPC-TEL 2,5 terhadap pengaruh fisik (perbedaan suhu), pengaruh bahan kimia yaitu NaCl, MgCl2 dan CaCl2 pada berbagai pH dan pengaruh metabolisme di hepar pada uji stabilitas biologik. Apabila liposom EPC-TEL 2,5 cukup stabil pada uji stabilitas fisik dan kimia, tidak stabil pada uji stabilitas biologik, maka formulasi terbaru liposom tersebut dapat dimanfaatkan untuk menginkorporasikan obat-obat, terutama obat yang hanya efektif pada dosis tinggi ataupun obat-obat untuk jangka panjang, sehingga efek toksik obat dapat ditekan serendah mungkin.
Alat dan bahan
Alat : ekstruder Avestin®, membran berpori 100 dan 200 nm􀃆 liposom unilamelar berukuran 100-200 nanometer), bath sonicator unilamelar berukuran <100 nm, mikroskop fluoresens, TLC- gel silika60 F254 (Merck), pendingin, pemanas, thermometer, scanner.
Bahan : liposom EPC-TEL2,5, penanda liposom Quinacrin 0,05 %, NaCl, MgCl2 , CaCl2, mencit, ekstrak hepar, pewarna bercak campuran tembaga asetat 3% dan asam fosfat 8%.
Metode Penelitian
Tahap 1 : Preparasi liposom EPC-TEL2,5 (Ernie HP) 10
• Liposom diekstrusi dengan ekstruder Avestin®, membran berpori 100 dan 200 nm􀃆 liposom unilamelar berukuran 100-200 nanometer).
• Liposom sonikasi (bath sonicator ) unilamelar berukuran <100 nm.
Tahap II : Uji stabilitas in vitro, meliputi :
A. Fisik: pengukuran besar partikel dan jumlah liposom EPC-TEL2,5 :
- 4 kelompok : 1) sebelum ekstrusi; 2) ekstrusi 200 nm; 3) ekstrusi 100 nm; 4) sonikasi
- Setiap kelompok dibagi ke dalam 3 subkelompok observasi suhu inkubasi (4 sampel/subkel.) + penanda liposom Quinacrin 0.05 %: suhu kamar (≥20° C ), suhu 37° C dan 4° C.
- Observasi hari pertama, akhir minggu pertama, akhir bulan I, akhir bulan ke II dan akhir bulan ke III (3 bulan).
- Pengukuran : a. Metode van Renswoude, dkk 11 : modifikasi elektroforesis untuk mengukur besar liposom.
b. Modifikasi mikroskop fluoresens untuk mengukur besar (diameter dengan skala Olympus) dan jumlah liposom.
B. Kimiawi (Metode Freisleben HJ,dkk 12 dan New RC, dkk 13).
- 4 kelompok : 1) sebelum ekstrusi; 2) ekstrusi 200 nm; 3) ekstrusi 100 nm; 4) sonikasi
- Setiap kelompok dibagi ke dalam 2 subkelompok: 150 dan 350 mMol + penanda liposom    Quinacrin 0,05 %.
- Masing-masing subkelompok dibagi 3 subsubkelompok elektrolit NaCl, MgCl2 , CaCl2 dengan pH masing-masing 5; 7; dan 9 , 3 sampel/sub-sub kelompok.
- Uji pada hari I 􀃆akhir minggu I, akhir bulan I, akhir bulan ke 2, dan akhir bulan ke 3 penyimpanan pada suhu 4°C
- Pengukuran: a. Metode van Renswoude, dkk11 : modifikasi elektroforesis untuk mengukur besar liposom
b. Modifikasi mikroskop fluoresens untuk mengukur besar (diameter, skala Olympus) dan jumlah liposom
C. Uji stabilitas biologik in vivo:
Untuk menilai dekomposisi (degradasi) TEL murni dan atau EPC-TEL2,5 dengan cara:
- 24 ekor mencit C3H jantan dan betina 12-15 minggu, 20-25 g, dibagi 6 kelompok ekstraksi hepar pada menit ke 0; 30; 60; dan jam 2; 4; dan 8.
- Dosis liposom EPC-TEL 2,5 sebesar 10 mmol /ekor, IP
- Ekstrak hepar disimpan pada suhu 4° C sebelum semua ekstrak terkumpul.
- Hasil dekomposisi TEL diukur dengan TLC- gel silika60 F254 (Merck) dengan kontrol TEL murni pada dosis 200; 300; 400 ug.
- Pewarna bercak campuran tembaga asetat 3% dan asam fosfat 8% dengan pemanasan 180° C selama 10 menit.
- Bercak di”scan” dengan program Presto Page Manager dan kadar TEL/degradasi diukur semi kuantitatif pada program Adobe Photo Shop 7.01
Kesimpulan
(a) Liposom EPC-TEL 2,5 cukup stabil hingga 1 bulan penyimpanan secara fisik, terutama pada suhu 4° dan 37° C, sedangkan secara kimia terutama NaCl, CaCl2 dalam larutan 350 mMol tetap stabil hingga akhir bulan II, pada pH 5 dan 7.
(b) Liposom EPC-TEL 2,5 tidak stabil pada uji stabilitas biologik 􀃆 terdegradasi di hati mencit, namun tidak / belum diketahui hasil degradasi TEL

KBA


Buah Mahkota Dewa [Phaleria macrocarpa(Scheff) Boerl.]

IDENTITAS TANAMAN
Pohon Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa) dikenal sebagai salah satu tanaman obat di Indonesia. Asalnya dari Papua/Irian Jaya. Tanaman atau pohon mahkota dewa seringkali ditanam sebagai tanaman peneduh. Ukurannya tidak terlalu besar dengan tinggi mencapai 3 meter, mempunyai buah yang berwarna merah menyala yang tumbuh dari batang utama hingga ke ranting.
KANDUNGAN
Tumbuhan mahkota dewa mengandung kelompok senyawa alkaloid, polifenol, saponin, flavonoid, dan asam-asam lemak Sri Hartati et al., di dalam tulisannya melaporkan bahwa mereka telah berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi suatu senyawa glukosida benzofenon yaitu phalerin (1) dari ekstrak metanol daun Mahkota dewa. Dalam tulisan ini akan dilaporkan hasil isolasi dan identifikasi dari ekstrak n-butanol buah Mahkota dewa yang mempunyai daya aktivitas sebagai senyawa antioksidan. Senyawa kimia tersebut adalah 6,4’-dihidroksi-4-metoksi benzofenon-2-O-α-D-glukopiranosida (5) yang diidentifikasi berdasarkan spektra ultra violet, infra merah, resonansi magnet inti (RMI proton, karbon dan DEPT) dan RMI 2 dimensi (1H-1H COSY, 13C-1H COSY, HMBC). Beberapa senyawa turunan senyawa benzofenon glikosida telah banyak diisolasi dari beberapa jenis tanaman seperti telefenon A (2) dan B (3) dari akar tanaman Polygala telephioides, Rolygalaceae; senyawa iriflofenon 2-O-α-glukopiranosida (4) dari herbal tanaman Coleogyne ramosissima, Rosaceae.
EFEK FARMAKOLOGI
1.       Alkaloid, bersifat detoksifikasi yang dapat menetralisir racun di dalam tubuh
2.       Saponin, yang bermanfaat sebagai:
a.       sumber anti bakteri dan anti virus
    1. meningkatkan sistem kekebalan tubuh
    2. meningkatkan vitalitas
    3. mengurangi kadar gula dalam darah
    4. mengurangi penggumpalan darah
3.       Flavonoid
a.       melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh dan mencegah terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah
b.       mengurangi kandungan kolesterol serta mengurangi penumbunan lemak pada dinding pembuluh darah
c.        mengurangi kadar risiko penyakit jantung koroner
d.       mengandung antiinflamasi (antiradang)
e.        berfungsi sebagai anti-oksidan
f.        membantu mengurangi rasa sakit jika terjadi pendarahan atau pembengkakan
4.       Polifenol
a.       berfungsi sebagai antihistamin (antialergi)

CARA MEMPEROLEH GLIKOSIDA
Ekstraksi dan Isolasi
Ekstraksi dilakukan dengan cara mengekstraksi simplisia secara refluks dengan etanol selama 3 jam dan dilakukan 3 kali pengulangan dan diuapkan dengan penguap berpusing Ekstrak etanol yang diperoleh kemudian dipartisi dengan etilasetat
sebanyak 3 kali, dan lapisan air kemudian dipartisi kembali dengan n-butanol sebanyak 3 kali. Sehingga diperoleh 3 jenis ekstrak yaitu ekstrak etilasetat, ekstrak n-butanol dan ekstrak air. Ekstrak n-butanol difraksinasi dengan kromatografi kolom (SiO2,
kloroform-metanol = 4 : 1 – 1 : 1), kemudian fraksi 3 (Fr.-3) dimurnikan kembali dengan kromatografi kolom secara isokratik (SiO2, kloroform-metanol =5 : 1) dan diperoleh fraksi 3-3 yang telah murni yang (UL), infra merah (IM), resonansi magnet inti RMI 1 dimensi (RMI proton , karbon dan DEPT), RMI 2 dimensi (1H-1H COSY, 13C-1H COSY, dan HMBC).

Hidrolisis senyawa isolate
Senyawa isolat (20 mg) dilarutkan dalam 10 mL 9% HCl—MeOH, distirer pada suhu kamar selama 2 jam sambil dimonitor dengan analisis KLT setiap 20 menit. Hasil hidrolisis dimurnikan dengan analisis kromatografi kolom (SiO2, kloroform –
MeOH = 8 : 1) dan diperoleh 2 senyawa berbentuk serbuk putih (gula) dan serbuk kuning (aglikon). Bagian gula yang termetilasi dan senyawa metil-β- glukosa standar diinjeksikan pada kromatografi gas dengan kondisi sebagai berikut :Kolom : 2% OV-17 Suhu kolom : 160 Oc Fase gerak : nitrogen Kecepatan alir : 50 mL/menit Suhu injeksi : 180 oC Detektor : FID

Kesimpulan
Hasil isolasi, pemurnian dan elusidasi struktur kimia dari ekstrak n-butanol Mahkota
dewa, Phaleria macrocarpa diperoleh senyawa 6,4’- dihidroksi-4-metoksi     benzofenon-2-O-α-Dglukopiranosida, dan hasil hidrolisisnya dengan 9% HCl dalam methanol menghasilkan senyawa 2,6,4’-trihidroksi-4-metoksibenzofenon.















Cordyline fruticosa (L) A. Cheval


IDENTITAS TANAMAN

Cordyline fruticosa (L) A. Cheval atau yang biasa kita kenal andong, merupakan famili dari Agavaceae (Liliaceae). Daun andong biasanya digunakan untuk obat tradisional untuk mengobati diare dan disentri. Walaupun demikian,  bunga dan akar dari andong juga dapat digunakan sebagai obat. Andong memiliki rasa manis, hambar dan bersifat menyejukkan.
KANDUNGAN
Kandungan kimia dari tanaman ini belum banyak diketahui. Saat ini hanya diketahui beberapa kandungan di dalamnya, yaitu steroid, saponin dan polisakarida. Steroid dan saponin merupakan senyawa golongan glikosida. Jenis saponin yang dikandungnya adalah saponin steroid yang merupakan senyawa mayor ditinjau dari kestabilan busa yang terbentuk dan senyawa saponin steroid spirostananol dengan berat 7,5 mg.
Glikosida saponin adalah glikosida yang aglikonnya berupa sapogenin. Saponin adalah segolongan senyawa glikosida yang mempunyai struktur steroid dan mempunyai sifat-sifat khas dapat membentuk larutan koloidal dalam air dan membuih bila dikocok. Berdasarkan struktur aglikonnya (sapogeninnya), saponin dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu tipe steroid dan tipe triterpenoid. Kedua senyawa ini memiliki hubungan glikosidik pada atom C-3 dan memiliki asal usul biogenetika yang sama lewat asam mevalonat dan satuan-satuan isoprenoid.
Berdasarkan struktur dari aglikon maka glikosida dan saponin dapat dibagi 2 golongan yaitu saponin netral yang berasal dari steroid dengan rantai samping spiroketal dan saponin asam yang mempunyai struktur triterpenoid. Sedangkan gulanya ada beberapa macam, yaitu glukosa, arabinosa, xylose, dan glucuronic acid.
Sedangkan glikosida steroid adalah glikosida yang aglikonnya berupa steroid. Glikosida steroid disebut juga glikosida jantung karena memiliki daya kerja kuat dan spesifik terhadap otot jantung. Secara kimiawi bentuk struktur glikosida jantung sangat mirip dengan asam empedu yaitu bagian gula yang menempel pada posisi tiga dari inti steroid dan bagian aglikonnya berupa steroid yang terdiri dari dua tipe yaitu tipe kardenolida dan tipe bufadienolida.
Tipe kardenolida merupakan steroid yang mengandung atom C-23 dengan rantai samping terdiri dari lingkaran lakton 5-anggota yang tidak jenuh dan alfa-beta menempel pada atom C nomor 17 bentuk beta. Sementara tipe bufadienolida berupa homolog dari kardenolida dengan atom C-24 dan mempunyai rantai samping lingkaran keton 6-anggota tidak jenuh ganda yang menempel pada atom C nomor 17. Aglikon dari glikosida jantung adalah steroid yaitu turunan dari siklo-pentenofenantren yang mengandung lingkaran lakton yang tidak jenuh pada atom C-17.
EFEK FARMAKOLOGI
Golongan senyawa ini mempunyai sifat toksik terhadap Larva Udang (Artenia salina Lich) yang diidentifikasikan berkorelasi positif terhadap senyawa antitumor. Namun di lingkungan masyarakat kita, andong digunakan untuk menyejukkan darah, menghentikan pendarahan, antiswelling (mengobati bengkak karena memar), kencing berdarah, mencegah keguguran, haid terlalu banyak, wasir berdarah, nyeri lambung, terlambat haid dan TBC.
CARA MEMPEROLEH GLIKOSIDA
Glikosida dalam andong dapat didapatkan dengan melakukan ekstraksi. Serbuk kering daun andong diekstraksi dengan menggunakan teknik maserasi, berturut-turut dengan menggunakan pelarut n-heksana dan methanol. Proses ekstraksi dengan dua pelarut ini dilakukan untuk memisahkan semua komponen, baik yang polar maupun yang non polar dari cuplikan, dan didapatkan ekstrak kental methanol. Hasil penapisan fitokimia terhadap ekstrak metanol kental diperoleh bahwa daun Andong mengandung saponin dan steroid.





DAFTAR PUSTAKA

Annaria, susi, 2005, Identifikasi Senyawa Organik Bahan Alam pada Daun Melur(Brucea Javanica (L) Mess)
Bogoriani, N. W., 2008, Isolasi dan Identifikasi Senyawa Saponin Dari Daun Andong (Cordyline terminalis Kunth), Jurnal Kimia (2) : 40-44
Hariana, H. Arief,2006, Tumbuhan Obat dan Khasiatnya Jilid 1, Penebar Swadaya, Jakarta,12-13
Harmanto, N. 2004. Mahkota dewa, obat pusaka para dewa, Penerbit Agromedia Pstaka,Tangerang, 109
Hartati, dkk, 2005.Phalerin, glukosida benzophenon baru diisolasi dari ekstrak metanolik dan mahkotadewa [Phaleria macrocarpa (Scheff). Boerl.], Majalah Farmasi Indonesia, 16 91), 51-57.
Ito, dkk,2000. Flavonoid and benzophenone glycosides from Coleogyne ramosissima,Phytochem. 54, 695-700.
Li, J., and T. Nohara 2000. Benzophenone C-glucosides from Polygala telephioides, chem. Pharm.Bull. 48 (9),1354-1355.















TUGAS KIMIA BAHAN ALAM

GLIKOSIDA

Buah Mahkota Dewa [Phaleria macrocarpa(Scheff) Boerl.]
dan Cordyline fruticosa (L) A. Cheval



Disusun oleh:
LIO NITA AKIKA (08613046)
SUCI ANUGRAHATI (08613050)


 

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

JOGJAKARTA

2009