Senin, 23 Oktober 2017

Drugs Utilities Study

write : Suci A. Task.

Studi farmakoepidemiologi analisis : studi bagaimana penggunaan obat berhubungan dengan efek obat yang digunakan serta keuntungan dan efek samping. Drug utilization ( penggunaan obat ) : Semua kegiatan mulai marketing, distribusi, peresepan, dan penggunaan obat dimasyarakat, kemudian menghasilkan konsekuensi medic, social dan ekonomi. Tujuan Drug Utilization Study (DUS) Identifikasi masalah dan analisis masalah berkaitan dengan kepentingan, penyebab,      konsekuensi, penilaian terhadap efek dari keputusan yang diambil tentang penggunaan    obat.
            Adapun tujuan kuantitatif DUS untuk :
  1. Menghitung tingkat persentase, tren perkembangan, dan waktu pemakaian obat pada berbagai tingkat disistem pelayanan kesehatan.
  2. Estimasi penggunaan obat di populasi meliputi usia, jenis kelamin, kelas sosial, dll, serta untuk mengidentifikasidimana mungkin terjadi over atau under utilization.
  3. Memonitor kategori terapi yang beresikoterjadi ES untuk tindakan antisipasi untuk perubahan kebijakan, bila ada obat sebaiknya dikeluarkan dari formularium.
Sedangkan tujuan kualitatif DUS untuk :
  1. Menghubungkan antara data peresepan dengan alasan mengapa obat diresepkan.
  2. Beda dengan kuantitatif, pada studi kualitatif ada pertimbangan “kelayakan”
  3. Kriteria obat yang digunakan harus meliputi parameter : indikasi, dosis harian, dan lama terapi.
  4. Kriteria peresepan, yang buruk bila terjadi kegagalan memilih obat yang lebih efektif atau dengan efek samping yang lebih ringan. Atau penggunaan kombinasibila obat tunggal sudah mencukupi, atau memilih yang lebih mahal bila yang murah tersedia.


Ada bermacam jenis drug utilities studi (DUS) Kualitatif :
a.       DUR (Drg Utillization review) atau DUE ( Drug Utillization Evaluation). mempelajari pola peresepan kaitannya dengan kejadian efek samping konsekuensi ekonomis. 
b.      Drug Utillization 90% (DU 90%) dan persentase obat yang sesuai dengan        guideline ( formularium RS, Pedoman diagnosis & terapi, DOEN, dll )
Metodelogi DDD (defined daily dose) merupakan metode yang dikembangkan karena kebutuhan untuk menstadarisasi data pemakaian obat yang ada ( kuantitatif masing-masing obat atau bentuk sediaan) menjadi data yang bermakna untuk membuat estimasi jumlah orang yang terpapar suatu obat atau kelompok obat. DDD diasumsikan sebagai rata-rata dosis perawatan harian suatu obat untuk indikasi utamanya pada pasien dewasa.
DDD per 1000 pasien perhari : digunakan pasien rawat jalan yang menggunakan obat kronis, merupakan proporsi populasi yang menggunakan obat tertentu per hari. DDD per 100 hari rawat ( disesuaikan dengan tingkat hunian di RS), digunakan untuk pasien rawat inap merupakan proporsi pasien yang menerima DDD.
Untuk obat yang digunakan jangka pendek seperti antimikroba digunakan DDD per 1000 pasien per tahun, untuk mengestimasi jumlah hari tiap-tiap pasien menerima suatu pengobatan dalam setahun.
              Klasifikasi Anatomic Therapeutic Chemical (ATC) merupakan system yang dikombinasikan dengan metode DDD.
Terdiri dari 5 tingkat hirarki : 
a.       Satu kelas anatomi utama 
b.      Dua subkelas terapi 
c.       Satu sub kelas kimia terapi 
d.      Satu sub kelas senyawa kimia
 
Sistem ATC/DDD (Anatomical Therapeutic Chemical / Defined Daily Dose) merupakan sistem klasifikasi dan  pengukuran penggunaan obat yang saat ini  telah menjadi salah satu pusat perhatian dalam pengembangan penelitian tentang obat. Sistem ATC digunakan untuk mengklasifikasikan obat yang berlaku secara internasional.Sistem ini dikontorl oleh WHO Collaborating Centre for Drug Statistic Methodology, dan pertama kali dipublikasikan tahun 1976.Obat dibagi menjadi kelompok yang berbeda berdasarkan organ atau system dimana obat itu beraksi dan atau berdasarkan karakteristik terapeutik dan kimianya. Obat diklasifikasikan kedalam lima level yang berbeda.
Level pertama terdiri dari 14 kelompok anatomi utama yang dilambangkan dengan huruf.Level kedua kelompok utama farmakologi yang terdiri dari dua digit angka, level ketiga merupakan kelompok farmakologi yang dilambangkan dengan huruf.Level keempat merupakan kelompok kimia dan terdiri dari satu huruf. Level kelima adalah kelompok zat kimia dan terdiri dari dua huruf.
Pengukuran atau evaluasi penggunaan obat terbagi menjadi dua jenis yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Yang kuantitatif bisa menggunakan metode DDD dan yang bersifat kualitatif menggunakan Metode Gyssens.
DDD ( Defined Daily Doses ) merupakan dosis harian yang sudah ditetapkan. DDD diasumsikan dosis pemeliharaan rata-rata per hari. DDD yang ditetapkan merujuk kepada dosis untuk orang dewasa. DDD yang sudah ditetapkan hanya untuk obat-obat yang masuk dalam klasifikasi ATC.

Rumus perhitungan DDD 100 patients day:
DDD 100 patients day = ( jumlah gram obat yang digunakan oleh pasien ) x 100
                                                DDD standar WHO dalam gram                    Total LOS

·         LOS ( Length of stay ) waktu perawatan pasien rawat inap.
Contoh Kasus :
( DDD Amoksilini : 1 g, Seftriakson 2 g, Ampisilin 2 g
Pasien
Regimen obat
LOS
Total
DDD
P1
Amoksilin 3 x 0.5 g ( 5 hr )
10 hr
7,5 g
7.5/1= 7,5
P2
Seftriakson 1 x 2 g ( 5 hr )
10 hr
10 g
10/2=5
P3
Seftriakson 1 x 2 g ( 5 hr )
8 hr
10 g
10/2=5
P4
Ampisilin 4 x 0,5 g(5 hr )
10 hr
10 g
10/2=5
P5
Ampisilin 2 x 1 g ( 10 hr)


Total


DDD 100 patient day

16 hr



54 hr
20 gr
20/2=10




Amok= 7,5/54 X 100 = 13,89
Seftri = 10/54 x 100 = 18,52
Ampi = 15/54 x 100 =27,78

Untuk kasus komunitas bisa menggunakan perhitungan DDD/1000 KPRJ
Perhitungan DDD/1000 KPRJ
DDD 1 tahun = Total Penggunaan obat  setahun ( g )
                                    DDD obat ( WHO )
DDD/1000 KPRJ = Total DDD 1 tahun
                                    Total KPRJ/1000
Contoh Kasus :
Data penggunaan obat Parasetamol tablet 500 mg pada Puskesmas X pada tahun 2016 adalah  15.000 tablet. Dan jumlah kunjungan pasien rawat jalan Puskesmas X tahun 2016 adalah 18000 orang. DDD WHO Parasetamol 3 g . Maka perhitungan DDD/1000 KPRJnya :



DDD 1 tahun = 15.000 x 0,5 g
                                    3
                        = 2500
DDD/1000 KPRJ = 2500/18 = 138,89

Kelemahan dari system DDD ini adalah hanya untuk obat yang tergolong dalam system ATC. Selain itu sebagian besar untuk dosis orang dewasa.


DAFTAR PUSTAKA
Aksydenstry AS, Nortberg (2003) Introduction of Drug Utilization. WHO International Working Group for Drug Statistics Methodology; WHO Collaborating Centre for Drug Statistics Methodology; WHO Collaborating Centre for Drug Utilization Research and Clinical ;Pharmacological Services
Indeks ATC dengan DDDs. Oslo, Norwegia, WHO Pusat Penelitian Statistik Obat Metodologi, 2003.
            Capellà D. (1993)  Alat dan analisis deskriptif. Di:Dukes MNG ed. Studi pemanfaatan, metode dan kegunaan obat. Kopenhagen, WHO Regional Kantor untuk Eropa,(WHO Regional Publikasi, Seri Eropa, No. 45), 55-78.
            Rønning M et al. Versi yang berbeda klasifikasi kimia terapeutik anatomis sistem dan dosis harian - adalah obatnyapemanfaatan data sebanding. Jurnal Eropa Farmakologi Klinis, 2000, 56: 723-727.
            Rägo L (1996). Urusan urusan Estonia. Jurnal Urusan Regulasi, 7: 567-573.
Studi tentang pemanfaatan obat: metode dan aplikasi. Kopenhagen, Kantor Regional WHO untuk Eropa 1979 (Publikasi Regional Eropa Seri No.8).
Bergman U (1980) et al. Mengaudit pemanfaatan obat rumah sakit dengan dosis harian per hari. Sebuah studi metodologis. Jurnal Eropa Farmakologi Klinis, 17: 183-187.